Wednesday, May 8, 2019

Rencana Sang Waktu

"Nggak kerasa udah ramadhan aja ya"
"Iya cepet banget"
"Kayaknya baru kemarin deh lu diturunin di tengah jalan"
"Eh? Hahahaha sial lu!"
"Btw gimana kabarnya?"
"Nggak tau"
"Lu masih marah?"
"Marah? Plis, gue kan orangnya paling nggak bisa marah"
"Trus?"
"Gue cuma kecewa aja"
"Ya baguslah. Mungkin emang harus bener-bener dikecewain dulu biar lu sadar!"
"Hehe iyah"

Aku menghela nafas panjang mengingat percakapan tersebut. Waktu memang berjalan begitu cepat, hingga tanpa sadar Ia telah memanjakanku, melenakanku, sebelum kemudian menghempaskanku saat aku sedang lengah-lengahnya. Waktu tidak hanya memberiku kesempatan, namun juga membuatku merasakan berbagai hal yang tidak aku dapatkan sebelumnya. Bagiku, waktu begitu jahat terhadapku. Mengapa Ia mempertemukanku dengannya hanya untuk mengakhirinya dengan cara yang kubenci?

"Sekarang masih kecewa?"
"Udah nggak sih. Tapi nggak tahu, gue udah nggak percaya sama omongan gue sendiri"
"..."
"Yang jelas gue takut ketemu dia lagi"
"Takut?"
"Nggak tau, mungkin juga trauma"
"..."
"Hehe alay banget ya?"
"Lu kan emang alay"
"Kampret!"

Aku kembali menghela nafas panjang. "Udah, cukup! Nggak usah dikipirin!!", batinku saat itu juga. Tapi lagi-lagi waktu sepertinya ingin mengetesku. Betapa panjang umurnya, tiba-tiba saja namanya muncul di layar 4.7 inci milikku. Setelah sekian lama.. Setelah sekian lama, kukira aku sudah baik-baik saja. Tapi mengapa hanya melihat namanya saja sudah membuatku takut? Mengapa sekedar pesan singkat darinya masih saja membuat jantungku berdegup kencang dan tangan yang langsung gemetar?

Mungkin harus kuakui temanku itu ada benarnya, aku memang alay..

Baru saja aku akan melempar handphoneku dan berniat mengabaikan pesan darinya saat notifikasi dm instagram darimu muncul.

Tanpa pikir panjang, aku pun langsung membuka pesan yang berisi tautan itu. Saat membacanya bisa kurasakan jantung yang tadinya berdegup kencang perlahan kembali normal, begitu juga dengan kedua tanganku. Rasa hangat mulai memenuhi dada, dan seulas senyum tersungging di wajah.

"Pengen aja share ke kamu :)" Tulismu di akhir pesan, yang berhasil membuat senyumku merekah lebih lebar.

Waktu, apakah ini juga bagian dari rencanamu? Apakah ini caramu menunjukkan bahwa terkadang butuh satu orang untuk pergi agar orang lain dapat datang?

Untuk kesekian kalinya aku menghela nafas panjang. Sudahlah. Sulit rasanya untuk memahami apa yang sedang waktu rencanakan. Anggap saja pesan darimu itu adalah cara waktu untuk memberitahuku bahwa apa yang sudah terjadi selama ini bukan sepenuhnya salahku, bahwa keputusanku untuk tidak terus-menerus mengalah dan disakiti sudah benar adanya, dan yang perlu kulakukan adalah move on dan terus belajar untuk memiliki jiwa yang sehat.

Ya, anggap saja seperti itu..

Sekali lagi kubaca tautan pesan darimu, sebelum kemudian mengetik ucapan terima kasih sebagai balasan - tentu saja dengan senyum yang masih belum hilang dari wajahku.

***

"Tahukah kamu bahwa hanya orang yang jiwanya sehat yang bisa membangun hubungan yang sehat? Jika jiwamu sakit maka kamu cenderung menyakiti orang lain atau dirimu sendiri. Either way you hurt the relationship because you are hurt. 
Jiwa sakit itu bukan gila ya, maksudnya jiwanya sakit, ga sehat. Ada luka. Bawa-bawa rasa sakit kemana-mana. Mungkin dari pengalaman menyakitkan masa lalu yang tanpa sadar bikin jiwamu nggak sehat. Tanpa betul-betul memaafkan orang yang menyebabkan rasa sakit itu kamu alami, akan sulit untuk sembuh. 
Kamu perlu mengampuni kejadian tsb, mengampuni orang tsb, atau bahkan mengampuni dirimu sendiri untuk bisa move on. Supaya kamu bisa melihat dengan jelas sebuah hubungan. Supaya kamu bisa berkelakuan sehat juga. Orang yang dalam hubungan suka menyakiti baik secara fisik atau verbal biasanya membawa luka masa lalu. Orang yang membiarkan dirinya disakiti dalam hubungan juga biasanya punya luka yang membuat caranya menilai dirinya sendiri jadi ngga sehat, dan terima aja salah diperlakukan.
Saya menyadari dan mensyukuri, bahwa sebelum menikah kami sudah menyehatkan jiwa. Sama-sana bertumbuh dewasa di dalam iman. Mau terus belajar tentang pernikahan dan merubah diri untuk hubungan yang lebih baik. Sehingga hubungan kam nggak perlu sakit.
I pray so you can do the same <3 - @mayaseptha7"

0 comments:

Don't take out without credits!. Powered by Blogger.