Random Picture by Google
Hari semakin larut, waktu telah menunjukkan pukul setengah
delapan malam, dan hujan malam ini sepertinya belum menampakkan tanda-tanda untuk berhenti.
Tanpa terasa sudah hampir satu jam aku menunggu hujan reda
di pelataran Cafe ini, bersama segelas kopi yang sekarang sudah hampir habis, dengan
ditemani lagu-lagu Raisa yang mengalun dari laptop ACER biru toskaku.
Berbicara soal hujan, aku jadi ingat perkataan Monstreza. Dia bilang hujan itu romantis.
Hujan punya banyak cerita. Hujan bisa membuatmu jatuh cinta, tapi juga bisa
membuatmu galau setengah mampus. Kurasa perkataannya ada benarnya. Hujan
selalu berhasil memunculkan sisi melodramatikku. Dan entah kenapa, hujan kali ini mengingatkanku
kepada seseorang..
Suatu saat di masa lalu,
Aku pernah begitu mengagumi dan menyukai seseorang, namun
aku lebih memilih diam. Bukan karena minder atau rendah diri, namun lebih ke
sadar diri.
Aku juga pernah begitu merindukan dan mencintainya,
namun aku lebih memilih diam. Bukan karena dia tidak mempunyai perasaan yang
sama, namun karena keadaan yang ada tidak memungkinkan kita untuk bersama.
Sampai suatu ketika, aku pernah begitu ingin memperjuangkannya, dan aku tidak tinggal diam. Namun terlambat, kesempatan itu telah
lewat. Yang tersisa hanya penyesalan akan sikap diamku selama itu.
Akhirnya semuanya telah berakhir, dan katanya saat itu semua
hanya masalah waktu.
Dan benar saja, semua hanya masalah waktu.
Sekarang ketika menengok kembali ke belakang, aku hanya bisa
tersenyum dan berpikir, ternyata
aku pernah begitu 'bodoh' menginginkannya ada di hidupku.
Jakarta Selatan, 24 November 2015
#NP Melangkah by Raisa

2 comments:
indiiii :') siniii akuu peluuuuk ({})
uuu sini siniii ahaha ceritanya lagi baper doang kok, ngga sampe galau kayak dulu2 xD
Post a Comment