Monday, October 11, 2021

Friday, May 28, 2021

everything is the way things are

Halo!! Seneng bisa nulis lagi di sini :")

Ternyata udah setahun gue nggak update. Well, jujur gue memang sengaja. Menulis di blog biasanya selalu menjadi pelarian gue untuk mengungkapkan segala unek-unek yang ada. Tapi sejak gue lihat videonya Pak Sapardi (alm.) dan Rintik Sedu dalam sebuah acara di youtube, ada perkataan Pak Sapardi yang sangat membekas. Beliau selalu memberi jarak dengan apa yang ingin dia tulis. Contohnya kalau mencintai seseorang, nanti dulu, tenangkan dulu, kalau tidak nanti jadi cengeng, alias puisinya jadi cengeng.

Sejak saat itu, tiap kali ada kejadian atau suatu hal yang membuat gue ingin menuliskannya di blog, akhirnya selalu gue urungkan. Apalagi kalo suatu hal tersebut ada hubungannya dengan hati yang sedih-sedih, takutnya isi tulisan gue penuh dengan olokan dan umpatan nggak jelas hehe so.. yah begitulah ceritanya kenapa akhirnya blog ini gue anggurin.

Tepatnya mulai memasuki tahun 2019 sampai pertengahan tahun 2020 gue sedang tidak baik-baik saja. Selama masa hiatus tersebut bisa dibilang kondisi psikologis gue sedang terganggu. Stress, sedih, depresi, bahkan tidak hanya sekali muncul keinginan buat mengakhiri hidup. So far, saat itu adalah titik terendah gue dalam hidup. Sepertinya semua masalah datang di waktu yang bersamaan. Gue merasa sendiri saat masalah-masalah itu menghajar gue dari berbagai sisi. Gue cuma bisa nunduk dan sujud. Mukena dan sajadah gue pun seringkali basah. Gue bahkan masih ingat bagaimana tiap kali sholat gue selalu menangis, bahkan saat baru memulai takbir.

Beberapa hal kemudian berakhir bahagia, namun beberapa hal lainnya membutuhkan waktu cukup lama untuk mengetahui jawabannya, yang akhirnya menyisakan sakit dan trauma. Setelah masa-masa suram tersebut, alhamdulillah gue mendapatkan pekerjaan. Tidak cukup membuat gue bahagia, tapi setidaknya cukup membuat gue sibuk sampai tidak sempat memikirkan hal-hal negatif. Dengan cara itu, gue bisa memberi ruang kepada hati dan mental yang sedang mencoba sembuh dengan tidak mengingat memori sebelumnya yang menyakitkan.

At the end of the day, gue sadar bahwa segala yang terjadi bukan tanpa alasan. Semua tangis, tawa, kecewa, juga bahagia, selalu ada hikmahnya masing-masing. Gue lega akhirnya fase tersebut sudah selesai. Semua puzzle telah menemukan potongannya. Dan yang paling penting,  I've learnt my lesson!

Saturday, January 4, 2020

Aku ingin pulang.
Karena di sini rasanya begitu lelah,
dan terkadang hidup terasa tak adil.

Mengapa mereka menjauh,
ketika yang kulakukan hanya ingin membantu?
Mengapa mereka menyalahkan,
ketika yang kulakukan hanya mengutarakan isi hati?
Mengapa mereka menghilang,
ketika yang kubutuhkan hanya untuk sejenak dikuatkan?

Aku ingin pergi.
Karena di sini rasanya begitu sesak,
dan terkadang hidup terasa tak adil.

Jika bukan karena yang terkasih,
jika aku bukan seorang yang pengecut dan penakut,
aku ingin pergi saja,
aku ingin pulang saja.

Wednesday, October 2, 2019

Yang Diinginkan

Jam satu lewat empat puluh tujuh menit..

Kalau tidak salah, itu adalah kali keempat aku terjaga dari tidurku. Alasannya selalu sama, mimpi buruk. Rasanya sungguh nyata hingga berhasil membuatku terkejut. Sepersekian detik aku tertegun. Lalu detik berikutnya kelegaan menghampiri ketika tahu aku masih di atas kasur. Safe and sound..

Beberapa malam kulewati dengan ritme yang sama.
Ake lelah, namun tak berdaya.
Hingga suatu hari kau datang tanpa kuduga.

***

Jam sebelas lewat dua puluh tiga menit..

Entah kali keberapa aku terbangun. Alasannya masih sama, karena mimpi. Tapi kali ini, bukanlah mimpi buruk yang menghampiri. Melainkan sosokmu yang hadir menyapa. Rasanya terlalu nyata hingga berhasil membuatku tiba-tiba merindukanmu.

Sambil memandang langit-langit kamar, aku mencoba kembali mengingat adegan demi adegan yang masih terasa jelas.

"Aku kangen," kataku manja. Kamu yang diam hanya tersenyum, lalu menarikku dalam pelukan. 

"Aku sekarang berani main sama mereka loh," ceritaku penuh semangat. "Ternyata nggak seserem yang kuduga," lanjutku sambil tertawa. 

Kali ini kamu ikut tertawa. "Good job!" katamu mantap, lalu mengecup keningku lembut.

"Nggak tau kenapa aku ngerasa bebas," lanjutku masih tertawa. "Aku mulai merasa bahagia lagi..."

Lagi-lagi kamu hanya tertawa kecil, namun bisa kurasakan pelukanmu semakin erat.

"Oiya, aku juga udah berani kemana-mana sendiri! Coba tebak aku habis dari mana?" Tanyaku antusias. 

"Dari mana?" Tanyamu balik tak kalah antusias.

Aku pun tak kuasa untuk tidak menyombongkan diri, "Seemaaraaangggg!!! Heheheheh" 

Untuk sesaat kurasakan pelukanmu mengendur, dan detik berikutnya bisa kulihat raut wajahmu yang memandangku tak percaya. Aku pun tersenyum saat perlahan bibirmu merekah memberi senyuman yang kusuka. "Wow," hanya itu yang keluar dari mulutmu. Tapi aku tahu telah berhasil membuatmu bangga.

Kali ini giliranku yang memelukmu erat. Kubenamkan kepalaku di dadamu. Kuhirup dalam-dalam wangi tubuhmu. Lalu, tak ada yang lebih membahagiakan saat kau meraih daguku hanya untuk menciumku.

Mataku pun terpejam. Kupeluk erat-erat guling yang sedari tadi dalam dekapan, sambil mengutuk mimpi yang seenaknya sendiri mengakhiri ceritanya. Kapan lagi aku punya kesempatan seperti itu? Berdua bercumbu seolah kau adalah milikku?

Kulirik jam masih menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh delapan menit. Malam masih panjang..

Aku kembali memejamkan mata. Berharap mimpiku selanjutnya masih tentangmu. Agar bisa kuceritakan pula alasan dibalik mimpi burukku. Pertemuan kita belum usai, masih ada banyak hal yang ingin kusampaikan. Karena akhir-akhir ini hidup terasa begitu berat. Dan aku sangat membutuhkan pelukan darimu, walau hanya dalam mimpi.

Wednesday, July 24, 2019

Is it that hard to put ourself in someone's else shoes?

Setiap orang yang beda dengan kita bukan berarti berhak dikatain aneh.
Sering ngelakuin kesalahan bukan berarti berhak buat terus disalahin.
Banyak nggak taunya juga bukan berarti berhak buat dikatain bego.

Ngga ada manusia di dunia ini yang seneng dianggep salah mulu. Apalagi terus-terusan dibilang bego.

Daripada gampang nyalah-nyalahin orang, kenapa sih kita nggak berusaha berbaik sangka aja?
Daripada nganggep orang bego dan akhirnya terus ngerendahin dia, kenapa sih kita nggak berusaha ngasih pengertian ke diri sendiri kalo pengetahuan di dunia ini nggak cuma yang ada di pikiran kita? Kapasitas pengetahuan orang pasti beda, pun dengan keahlian orang pasti juga beda.
Daripada terus-terusan fokus dengan kelemahan dia, kenapa sih kita nggak fokus sama kelebihan dia aja?

Kalau kita aja nggak suka diperlakuin dan dikatain dengan hal-hal negatif, kenapa kita justru dengan mudah ngelakuin itu ke orang lain?

Just try to put yourself in someone's else shoes!
Don't take out without credits!. Powered by Blogger.