Wednesday, October 2, 2019

Yang Diinginkan

Jam satu lewat empat puluh tujuh menit..

Kalau tidak salah, itu adalah kali keempat aku terjaga dari tidurku. Alasannya selalu sama, mimpi buruk. Rasanya sungguh nyata hingga berhasil membuatku terkejut. Sepersekian detik aku tertegun. Lalu detik berikutnya kelegaan menghampiri ketika tahu aku masih di atas kasur. Safe and sound..

Beberapa malam kulewati dengan ritme yang sama.
Ake lelah, namun tak berdaya.
Hingga suatu hari kau datang tanpa kuduga.

***

Jam sebelas lewat dua puluh tiga menit..

Entah kali keberapa aku terbangun. Alasannya masih sama, karena mimpi. Tapi kali ini, bukanlah mimpi buruk yang menghampiri. Melainkan sosokmu yang hadir menyapa. Rasanya terlalu nyata hingga berhasil membuatku tiba-tiba merindukanmu.

Sambil memandang langit-langit kamar, aku mencoba kembali mengingat adegan demi adegan yang masih terasa jelas.

"Aku kangen," kataku manja. Kamu yang diam hanya tersenyum, lalu menarikku dalam pelukan. 

"Aku sekarang berani main sama mereka loh," ceritaku penuh semangat. "Ternyata nggak seserem yang kuduga," lanjutku sambil tertawa. 

Kali ini kamu ikut tertawa. "Good job!" katamu mantap, lalu mengecup keningku lembut.

"Nggak tau kenapa aku ngerasa bebas," lanjutku masih tertawa. "Aku mulai merasa bahagia lagi..."

Lagi-lagi kamu hanya tertawa kecil, namun bisa kurasakan pelukanmu semakin erat.

"Oiya, aku juga udah berani kemana-mana sendiri! Coba tebak aku habis dari mana?" Tanyaku antusias. 

"Dari mana?" Tanyamu balik tak kalah antusias.

Aku pun tak kuasa untuk tidak menyombongkan diri, "Seemaaraaangggg!!! Heheheheh" 

Untuk sesaat kurasakan pelukanmu mengendur, dan detik berikutnya bisa kulihat raut wajahmu yang memandangku tak percaya. Aku pun tersenyum saat perlahan bibirmu merekah memberi senyuman yang kusuka. "Wow," hanya itu yang keluar dari mulutmu. Tapi aku tahu telah berhasil membuatmu bangga.

Kali ini giliranku yang memelukmu erat. Kubenamkan kepalaku di dadamu. Kuhirup dalam-dalam wangi tubuhmu. Lalu, tak ada yang lebih membahagiakan saat kau meraih daguku hanya untuk menciumku.

Mataku pun terpejam. Kupeluk erat-erat guling yang sedari tadi dalam dekapan, sambil mengutuk mimpi yang seenaknya sendiri mengakhiri ceritanya. Kapan lagi aku punya kesempatan seperti itu? Berdua bercumbu seolah kau adalah milikku?

Kulirik jam masih menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh delapan menit. Malam masih panjang..

Aku kembali memejamkan mata. Berharap mimpiku selanjutnya masih tentangmu. Agar bisa kuceritakan pula alasan dibalik mimpi burukku. Pertemuan kita belum usai, masih ada banyak hal yang ingin kusampaikan. Karena akhir-akhir ini hidup terasa begitu berat. Dan aku sangat membutuhkan pelukan darimu, walau hanya dalam mimpi.

0 comments:

Don't take out without credits!. Powered by Blogger.