Saturday, February 16, 2019

Sekarang Aku Tahu

Sejak pertama kali kenal, aku tahu kamu sedikit berbeda dengan yang lain. Bukan karena kegantenganmu yang diatas rata-rata itu, bukan pula karena kecerdasanmu yang telah menjadi rahasia umum. Tapi, tas kecil yang selalu kamu bawa kemana-mana itu yang berhasil mencuri perhatianku. Butuh waktu cukup lama untuk aku akhirnya tahu apa isi di dalamnya.

Obat, obat, dan obat.

Saat itu aku hanya bisa menerka, bagaimana rasanya menjadi kamu yang seolah tak bisa lepas dari obat-obatan tersebut.

***

Kamu adalah tempatku bercerita. Tentang segala keluh kesah, beban hidup, atau sekedar obrolan ngalor-ngidulku yang tak penting. Dengan orang lain, aku adalah seorang yang pendiam. Tapi bersamamu, seringkali aku merasa menjadi pencerita yang handal. Meski kuyakin, bersamaku kamu sering merasa bosan. Karena bagaimanapun, aku bukan orang yang lucu dan asik.

Bagiku, kamu adalah pendengar yang baik. Dan itulah salah satu alasan mengapa aku menyukaimu.

***

Kamu pernah mengatakan bahwa kamu hanyalah manusia biasa. Yang punya masalah, yang pernah kesepian, yang bisa rapuh, yang tak jarang menangis sendiri. Hingga akhirnya kamu pernah berpikir untuk mengakhiri hidupmu yang bagiku terlihat baik-baik saja.

Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin kamu bisa seputus-asa itu hingga kematian menjadi solusi yang sangat ingin kamu ambil?

***

Hidup memang lucu.
Tuhan ternyata punya caranya sendiri untuk membolak-balikkan takdir.

Siapa yang menyangka sekarang aku jadi tahu, bagaimana obat menjadi salah satu barang penting yang (mau tidak mau) harus kamu bawa kemana-mana. Bagaimana rasanya hidupmu ditopang oleh bermacam obat hanya untuk bisa terus kembali bernafas dan membuka mata keesokan harinya.

Sekarang aku tahu, menjadi seorang pendengar yang baik itu tidaklah mudah. Ternyata cukup menguras tenaga hingga membuatmu merasa lelah, bahkan frustasi. Maaf, aku baru menyadarinya. Aku yang egois ini hanya memikirkan perasaanku dan mengabaikan perasaanmu. Haruskah aku berhenti bercerita kepadamu?

Oh aku lupa, bukankah memang kita sudah tidak pernah bertemu dan berbicara lagi? Baguslah, setidaknya kamu sekarang tidak harus mendengarkan ocehanku yang tidak jelas itu.

Ya, hidup memang lucu.
Kita tidak benar-benar tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Bahkan apa yang keluar dari mulut kita sendiri, bisa berbeda dan berubah tanpa kita sadari.

Aku pernah begitu angkuh. Namun sekarang aku tahu, bahwa aku memang manusia biasa. Aku bukan orang kuat yang dengan mudah bisa segera bangkit setelah kamu tinggalkan. Aku bukan orang tangguh yang dengan kepergianmu aku bisa baik-baik saja. Aku lemah, hingga sulit rasanya tak ada kamu di sampingku ketika aku benar-benar sedang butuh dikuatkan.

Aku pun berjuang sendiri. Jatuh sendiri. Sakit sendiri. Dan menangis sendiri.

Sial!
Karenamu, sekarang aku tahu.
Mengakhiri hidup rasanya tak pernah semenggoda ini...

0 comments:

Don't take out without credits!. Powered by Blogger.