Thursday, August 16, 2018

I'm Not Okay

Jogja tadi cerah. Tidak mendung, juga tidak panas.

Malam ini bintang tidak begitu banyak, namun indahnya bulan cukup menjadi alasan gue tersenyum saat mendongak melihat langit.

Akhir-akhir ini seperti biasa, gue banyak menghabiskan waktu dengan mereka  temen deket gue.

Seharusnya gue bahagia. Atau setidaknya, gue bisa tidur dengan mudah tanpa harus baper merenungi kejadian demi kejadian yang gue lalui bersama mereka. Namun nyatanya, di sinilah gue  di depan laptop, sedang numpahin unek-unek gue dengan mata yang agak sembap.

Gue bingung harus cerita dari mana. Mungkin dimulai dengan salah satu fakta bahwa gue kangen saat-saat sma. Atau lebih tepatnya, dengan temen deket gue di sana. Bisa dibilang, masa sma adalah zona paling nyaman yang pernah gue rasain. Sebagai seorang yang introvert, gue nggak bisa deket dengan semua orang. Gue tipikal orang yang pemilih, apalagi dalam hal memilih temen deket yang bisa gue anggap sebagai teman yang nyaman dalam berbagai hal.

Jujur gue ngga bisa hidup tanpa temen deket, atau singkatnya seorang sahabat.

Gue nggak begitu deket dengan keluarga, jadi hampir semua hal yang gue rasain dan alami, selalu gue ceritain ke sahabat gue ini. Saat sma, Allah udah sangat baik hati dengan mengirim dia sebagai sahabat gue. Terlepas dari banyak kekurangan yang gue miliki, dia bisa nerima gue apa adanya. Kalaupun gue salah, dia biasa ngasi tau dan nasehatin gue baik-baik, tanpa harus ngejudge dan bikin gue merasa minder. Terlepas dari karakter kita yang berseberangan, we suit each other well. Terlepas dari sifat gue yang kayak gini (nggak peka, nggak cekatan, lola', nggak pinter-pinter amat, dan semua sifat menyebalkan lainnya, you name it lah), gue nggak pernah merasa terpojokkan, gue nggak pernah merasa sedih atau kecewa karena dia ngatain gue atau ngolok-ngolok gue, apalagi berkata kasar dan ngebentak gue, gue nggak pernah merasa minder karena dia sosok yang lebih-lebih dibanding gue yang cuma apalah. Intinya, dia adalah salah satu sosok terbaik yang pernah gue temuin.

Saat kuliah S1, gue sempet mengalami krisis pertemanan. Gue nggak bisa nemuin sosok kayak sahabat gue di sma itu. Butuh waktu tiga tahun sampai akhirnya gue nemuin sosok yang nyaman gue anggep sebagai sahabat. Lagi-lagi Allah udah sangat baik dengan mengirimkan sosok lain untuk jadi sahabat gue. I'm grateful and blessed at the same time, punya sosok seperti mereka dalam hidup gue.

Tiap kali sama mereka, gue selalu berada di situasi yang nyaman banget. Nggak ada beban. Gue nggak harus insecure saat ngobrol sama mereka, gue nggak harus memilah-milah kata-kata gue atau takut keliatan bego di mata mereka. Gue juga nggak harus capek mikir gimana caranya komunikasi tanpa harus bikin mereka bad mood dan marah sama gue. Mereka nggak pernah ngejudge gue hanya karena kita punya pandangan dan persepsi yang berbeda. Gue bisa meluapkan apapun, ngomong ngalor-ngidul nggak jelas, dan mereka bisa jadi pendengar yang baik tanpa gue minta, dan tanpa bikin mood gue semakin jatuh dengan tanggapan mereka. In other words, mereka adalah definisi 'sahabat' yang gue tau dan inginkan.

Sampai akhirnya gue pindah ke kota baru, ke lingkungan baru, bertemu dengan teman-teman baru, harus menghadapi sifat dan karakter yang jauh berbeda dengan gue.

Ah entahlah.

Gue nggak mau menceritakan detail apa yang mereka (teman-teman baru) lakuin ke gue di blog ini. Hanya saja, perlakuan mereka bikin gue sedih dan kecewa. Dan tiba-tiba saja, gue kangen dengan sahabat gue. Gue kangen punya sosok seperti mereka di samping gue, yang deket dengan gue.

Mungkin sekarang gue sedang mengalami quarter life crisis. 

Mungkin juga gue hanya lelah dan akhirnya baper. Sehingga perkataan mereka, perlakuan mereka, yang mungkin hanya berniat bercanda dan tak ada maksud menyakiti, pada akhirnya justru membuat gue kepikiran sampai nangis lebay kayak gini.

Mungkin ini bagian dari proses gue semakin dewasa, dengan memahami bahwa masih banyak di luar sana orang dengan karakter dan sifatnya yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan gue.

Mungkin juga ini jadi pembelajaran buat gue, agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Bagaimana? Dengan mencoba untuk menurunkan ekspektasi gue terhadap orang lain, agar gue tidak kecewa karena mereka pasti memiliki kekurangan. Mencoba untuk menurunkan ego diri, dan belajar untuk lebih memahami dan ngertiin orang lain, dibanding hanya berharap orang lain untuk memahami dan ngertiin gue.

Gue tiba-tiba jadi ingat sama satu cerita yang gue baca di blognya Gita, tentang Sahabat yang hidup di jaman Rasulullah:

Di salah satu sudut Masjid Nabawi terdapat satu ruang yang kini digunakan sebagai ruang khadimat. Dahulu di tempat itulah Rasulullah SAW senantiasa berkumpul bermusyawarah bersama para Shahabatnya. Di sana Beliau memberi taushiyah, bermudzakarah, dan ta'lim.
Suatu ketika, saat Rasulullah SAW memberikan taushiyahnya, tiba-tiba Beliau berucap, "Sebentar lagi akan datang seorang pemuda ahli surga". Para Sahabat pun saling bertatapan. Di sana ada Abu Bakar ra, Ustman bin Affan ra, Umar bin Khattab ra, dan beberapa Sahabat lainnya.
Tak lama kemudian, datanglah seorang pemuda yang sederhana. Pakaiannya sederhana, penampilannya sederhana, wajahnya masih basah dengan air wudhu. Di tangan kirinya menenteng sandalnya yang sederhana pula.
Di kesempatan lain, ketika Rasulullah SAW berkumpul dengan para Sahabatnya, Beliau pun berucap, "Sebentar lagi kalian akan melihat seorang pemuda ahli surga". Dan pemuda sederhana itu datang lagi, dengan keadaan yang masih tetap sama, sederhana. Para Sahabat yang berkumpul pun terheran-heran, siapa dengan pemuda sederhana itu?
Bahkan hingga ketiga kalinya Rasulullah SAW mengatakan hal yang serupa, bahwa pemuda sederhana itu adalah seorang ahli surga. Seorang Sahabat, Mu'adz bin Jabbal ra merasa penasaran amalan apa yang dimilikinya sampai-sampai Rasul menyebutnya pemuda ahli surga?
Maka Mu'adz ra berusaha mencari tahu. Ia berdalih sedang berselisih dengan ayahnya dan meminta izin untuk menginap beberapa malam di kediaman si pemuda tersebut. Si pemuda pun mengizinkan. Dan mulai saat itu Mu'adz ra mengamati setiap amalan pemuda tersebut.
Malam pertama, ketika Mu'adz ra bangun untuk tahajud, pemuda tersebut masih terlelap hingga datang waktu shubuh. Ba'da shubuh, mereka bertilawah. Diamatinya bacaan pemuda tersebut yang masih terbata-bata, dan tidak begitu fasih. Ketika masuk waktu dhuha, Mu'adz bergegas menunaikan shalat dhuha, sementara pemuda itu tidak.
Keesokannya, Mu'adz ra kembali mengamati amalan pemuda tersebut. Malam tanpa tahajjud, bacaan tilawah terbata-bata dan tidak begitu fasih, serta di pagi harinya tidak shalat dhuha.
Begitupun di hari ketiga, amalan pemuda itu masih tetap sama. Bahkan di hari itu Mu'adz ra puasa sunnah, sedangkan pemuda itu tidak puasa sunnah.
Mu'adz ra pun semakin heran dengan ucapan Rasulullah SAW. Tidak ada yang istimewa dari amalan pemuda itu, tetapi Rasul menyebutnya sebagai pemuda ahli surga. Hingga Mu'adz ra pun langsung mengungkapkan keheranannya pada pemuda itu, "Wahai Saudaraku, sesungguhnya Rasulullah SAW menyebut-nyebut engkau sebagai pemuda ahli surga. Tetapi setelah aku amati, tidak ada amalan istimewa yang engkau amalkan. Engkau tidak tahajjud, bacaanmu pun tidak begitu fasih, pagi hari pun kau lalui tanpa shalat dhuha, bahkan puasa sunnah pun tidak. Lalu amalan apa yang engkau miliki hingga Rasulullah SAW menyebutmu sebagai ahli surga?"
"Saudaraku, aku memang belum mampu tahajjud. Bacaanku pun tidak fasih. Aku juga belum mampu shalat dhuha. Dan aku pun belum mampu untuk puasa sunnah. Tapi ketauhilah, sudah beberapa minggu ini aku berusaha untuk menjaga tiga amalan yang baru mampu aku amalkan".
"Amalan apakah itu?"
"Pertama, aku berusaha untuk tidak menyakiti orang lain. Sekecil apapun, aku berusaha untuk tidak menyinggung perasaan orang lain. Baik itu kepada ibu bapakku, istri dan anak-anakku, kerabatku, tetanggaku, dan semua orang yang hidup di sekelilingku. Aku tak ingin mereka tersakiti atau bahkan tersinggung oleh ucapan dan perbuatanku".
"Subhanallah. Kemudian apa?"
"Yang kedua, aku berusaha untuk tidak marah dan memaafkan. Karena yang aku tahu bahwa Rasulullah tidak suka marah dan mudah memaafkan".
"Subhanallah, lalu kemudian?"
"Dan yang terakhir, aku berusaha untuk menjaga tali silaturrahim. Menjalin hubungan baik dengan siapapun. Dan menyambungkan kembali tali silaturrahim yang terputus".
"Demi Allah... Engkau benar-benar ahli surga. Ketiga amalan yang engkau sebut itulah amalan yang paling sulit aku amalkan".
Pada akhirnya, yang gue bisa lakuin adalah introspeksi diri. Seperti yang pernah gue tulis di postingan sebelumnya, "Berusaha ngertiin dan mahami orang lain itu susah. Pun dengan urusan memaafkan atau meminta maaf, nggak semua orang bisa melakukannya. Apalagi untuk tidak menyakiti orang lain, itu hampir nggak mungkin". 

Manusia adalah tempat salah dan lupa. Jika ada yang menyakiti perasaan kita, maafkanlah karena Allah semata. Jika sekiranya kita telah menyakiti perasaan orang lain, terlepas dari kita benar atau salah, tidak ada ruginya meminta maaf. Mengatakannya lebih dahulu tidak akan membuat pahala kita berkurang. Tak banyak orang yang sadar, bahwa terkadang mendengar kata maaf dari orang lain sedikit banyak telah mengobati hati yang terluka. Dan sayangnya tidak banyak orang yang mau mengalah dan melakukannya, bahkan untuk sekedar mengucap kata 'maaf'.

Ah, semoga gue bisa menjadi orang yang baik, setidaknya kepada diri gue sendiri.

0 comments:

Don't take out without credits!. Powered by Blogger.