Sunday, March 31, 2013

Déjà vu

Apakah kalian tahu bagaimana rasanya ketika seseorang yang baru kalian kenal tiba - tiba mengungkapkan perasaannya kepada kalian? Well, aku tahu.

Malam itu hujan masih turun dengan deras. Sedangkan aku sudah hampir setengah jam duduk sendiri di plataran depan Fakultas menunggu hujan yang tak kunjung reda. Suasana kampus sudah mulai sepi karena waktu memang sudah menunjukkan pukul 7 malam. Berulang kali aku menghela nafas panjang, dan berulang kali pula aku menyalahkan diri sendiri karena selalu lupa untuk sekedar membeli payung. Aku yang memang sedikit penakut, saat itu hanya bisa berharap hujan cepat reda dan bisa segera pulang. Atau paling tidak, ada seseorang yang mau menemaniku sampai hujan reda. Dan tak lama kemudian.. harapanku pun terkabul.

Dia adalah Adit. Seseorang yang belum genap sebulan aku mengenalnya, yang mungkin telah dikirim  Tuhan untuk menemaniku saat itu.

Dia adalah teman seangkatanku, juga sejurusan denganku. Namun kita tidak saling mengenal sebelumnya karena memang kita berbeda kelas, sampai  akhirnya dia mengambil kelas yang sama denganku di semester ini.

Senasib sepertiku, saat itu dia tidak bisa pulang karena Ia lupa membawa mantel. Singkat cerita, akhirnya kita pun sama - sama menunggu hujan reda. Waktu terasa berlalu begitu cepat saat aku bersamanya. Ternyata dibalik sosok misteriusnya, dia adalah sosok yang ramah dan sedikit humoris. Suasana pun menjadi nyaman diantara kita berdua. Namun itu tak bertahan lama sampai dia mengungkapkan perasaannya kepadaku.

"Aku suka sama kamu" Ucapnya saat itu.

Masih jelas dalam ingatanku, saat itu aku hanya mengira bahwa dia hanya bercanda. Namun ketika dia mengulangi perkataannya untuk kedua kalinya, I''m speechless! Bingung, tidak percaya, dan yang pasti tidak habis pikir. Semuanya campur aduk sampai aku juga tidak tahu harus berbuat apa.

"Kamu serius?"
"Serius!"
"Kamu nggak lupa kan kalo kita baru kenal?"
"Nggak kok"
"Apa jangan - jangan kamu lagi taruhan?"
"Taruhan? Nggak lah!"

Aku hanya diam mendengar jawabannya. Semuanya tentu saja terasa tidak masuk akal bagiku.

"Nggak usah terlalu dipikirin" Ucapnya kemudian sambil tersenyum."Kita emang baru kenal, makanya aku cuma berani bilang aku suka kamu, bukan aku cinta kamu. Aku cuma pengen kamu tahu apa yang aku rasain sekarang. Dan aku pengen buat saat ini kita bisa jadi temen baik. Itu aja kok. Jadi nggak usah dijadiin beban juga.."

Saat itu aku hanya bisa ber-"ooh"-ria sambil manggut - manggut mendengar penjelasannya. Sedikit lega, namun juga sedikit bingung. Aku ingin kembali bertanya kepadanya, namun kuurungkan niatku dan lebih memilih diam. Setelah percakapan itu, tak bisa dipungkiri suasana menjadi canggung. Tapi untungnya itu tidak bertahan lama karena hujan sudah mulai reda meskipun masih menyisakan gerimis. Aku dan dia lalu memutuskan untuk segera pulang. Dia sempat menawarkan untuk mengantarku pulang, namun aku menolaknya. Setelah semua yang telah terjadi, tentu saja aku akan lebih nyaman untuk pulang sendiri dari pada bersamanya. Dia sempat keberatan karena malam itu sudah semakin larut, tapi akhirnya dia bisa menghargai keputusanku.

Sebelum pulang, dia sempat melepas jaketnya lalu memberikannya kepadaku. "Pake' aja jaketku! Gerimis kayak gini bisa bikin sakit. Kalo misalnya nggak mau pake', paling nggak bisa dijadiin payung!" Ucapnya kemudian. Dan tanpa sempat aku berkata apa  - apa, dia lalu segera pergi melajukan motornya.

Aku kembali tersenyum jika mengingat semua itu, terutama saat Ia rela meminjamkan jaketnya kepadaku. I'm so grateful! Tapi disisi lain, aku juga merasa bersalah karena keesokan harinya dialah yang akhirnya menjadi sakit.

Selama kurang lebih seminggu lamanya, hubunganku dan dia menjadi canggung. Namun seiring berjalannya waktu, semuanya berjalan dengan baik. Maksudku, kita akhirnya dapat berteman dengan baik. Seperti yang diharapkannya..

Saat itu aku belum berani mengatakan bahwa aku mencintainya, tapi mungkin.. aku juga menyukainya.

*** 

Aku tersenyum puas setelah selesai memposting tentang kisah awalku dan Adit di blog pribadiku. Hari sudah mulai sore. Kulihat dari balik jendela kelas hujan deras yang sejak siang tadi turun telah mulai reda, meskipun masih menyisakan sedikit gerimis. Akupun bergegas turun dari lantai 4 untuk segera pulang, sebelum hujan kembali turun dengan deras.

Saat sudah sampai di Plataran depan Fakultas, aku melihat sosok yang tak asing bagiku sedang duduk di motornya dan tersenyum kearahku.

Plataran, gerimis, dan ... Adit.
Semuanya seperti Déjà vu!

"Kok belum pulang?" Tanyaku heran.
"Aku nungguin kamu"
"Kenapa nggak ke kelas aja?"
"Nggak apa - apa, aku cuma lagi pengen mengenang tempat ini" Kata Adit sambil tersenyum."Yawda yuk kita pulang! Aku nggak bawa jaket loh, jadi nggak ada alasan buat nolak!" Tambahnya sambil terkekeh.
Akupun tersenyum mendengar perkataannya. "Percuma juga kalau misalnya aku nolak, yang ada kamu  juga bakalan maksa!" Cibirku kemudian.
"Haha exactly!"

Mungkin dulu kita belum berani mengatakannya cinta. Tapi sekarang .. kita sama - sama tahu dan yakin bahwa kita saling mencintai.
- End -

6 comments:

a.imamy said...

asiiiikk...
ndi' tapi itu cowoknya jangan sakit dong, flu kek ato apa gitu. kurang "cowok" banget kalo sakit gara-gara ujan [sekedar komen] :p

Indi Nisauf Fs said...

haha iya sih ..
lha tapi kalo diliat kenyataannya emang benerah sakit i La' *ups :p
hehe

a.imamy said...

oh men... brrti itu labelnya salah, bukan cerpen tapi realita. haha

Indi Nisauf Fs said...

haha setengah realita setengah fiksi xD

a.imamy said...

gausa ngeles. fuuu :v

Mulki said...

Setengah lebay.. ups, numpang komen lagi. :D

Don't take out without credits!. Powered by Blogger.