"Kenapa kamu suka hujan?" Tanyamu saat itu, memecah keheningan diantara kita.
"Hah? Kok kamu tahu aku suka hujan?"
"Kelihatan kok dari cara kamu memandang hujan"
"Sesimpel itu alasannya?"
"Memangnya kamu mau jawaban seperti apa?"
"Mmm kirain kamu bakal ngasih jawaban yang romantis"
"Loh bukannya itu romantis?"
"Romantis dari mananya?"
"Itu karena aku belum melanjutkan alasannya"
"Kalau begitu lanjutkan!"
"Aku tahu kamu suka hujan, karena dari cara kamu memandang hujan sama seperti cara kamu memandangku. Penuh dengan cinta"
"Seperti ini?" Aku lalu memandangmu lekat - lekat sambil tersenyum.
"Yup, kurang lebih seperti itu" Jawabmu sambil ikut tersenyum.
Percakapan kita berhenti sampai disitu. Aku dan kamu kembali memandang rintik hujan yang masih belum reda. Keheninganpun kembali menyelimuti seperti sebelumnya. Namun kali ini terasa berbeda. Dengan senyum yang masih tersungging di wajah kita, keheningan tersebut memberi kehangatan dan juga rasa nyaman yang tak bisa aku jelaskan.
"Indi!"
"Ya?"
"Kamu belum menjawab pertanyaanku"
"Pertanyaan yang mana?"
"Kenapa kamu suka hujan?"
"Kamu mau jawaban yang simpel apa yang romantis?"
"Dua - duanya"
"Alasannya adalah aku tak perlu alasan"
"Maksudnya?"
"Hujan itu sama seperti kamu. Aku tak perlu alasan kenapa aku menyukai hujan. Sama seperti aku tak perlu alasan untuk menyukaimu" Jawabku sambil tersenyum.
"Well, aku suka dengan jawabanmu"
"Lebih suka sama aku apa sama jawabanku barusan?" Godaku kemudian.
"Kenapa kamu suka menanyakan sesuatu yang sudah jelas kamu tahu jawabannya?"
"Hehe aku cuma mau memastikan"
"Dasar kamu ini! Yuk ah kita pulang! Hujannya sudah reda.. "
***
Saat menunggu hujan, dari Jakarta ke Bekasi_
2 comments:
gileee..... mantap banget tulisanx eyang yaa.... nanti biza dijadikan buku yaa...
oke kita pulang, hujan sudah reda... haha... nice nice...
haha amiiin dah XD
emang aku kan cita2nya pengen jadi novelis :D
Post a Comment